“Tap.. tap.. tap..”
Aah.. aku
tidak dapat berhenti membayangkannya! Suara langkah kaki itu, makhluk itu, dan
wajahnya .. dia ingin membunuhku.
***
“Ah , lelah sekali..” keluhku
sambil mengambil kunci rumah dari saku celanaku . Eh? Aneh . Pintu rumahku
tidak dikunci . Kucari sesuatu yang cukup untuk melindungi diriku sendiri . Ya!
Aku menemukannya . Sebatang kayu, aku mengambilnya . Aku pun membuka pintu
rumahku perlahan dan berharap tidak menimbulkan bunyi sedikit pun . Kemudian,
kunyalakan lampu.
Astaga! J-jejak kaki? Berdarah?
Aku tidak dapat percaya ini. Jangan-jangan.. ada pembunuhan di rumahku? Aku
segera menelpon polisi dan menunggu di luar rumah . Beberapa menit kemudian pun
polisi datang dan segera memasuki rumahku diikuti aku di belakang mereka . Eh?
T-tidak ada? Jejak kaki tadi hilang . Polisi pun marah kepadaku karena merasa
dibohongi tapi aku berani bersumpah bahwa aku melihatnya . Dan aku juga
menjelaskan kepada polisi bahwa tadi pintu rumahku dalam keadaan tak terkunci
jadi aku yakin ada seseorang masuk kesini .
Kemudian, polisi pun masuk dan menjelajahi seluruh rumahku . Tidak ada . Mereka bilang mereka tidak menemukan seorang pun di dalam rumahku . Mereka bilang aku aman dan menyuruhku memeriksa apakah aku kehilangan barang-barangku atau tidak . Aku mengangguk tanda iya dan berterimakasih kepada mereka seraya mereka menaiki mobil dan menjauh dari rumahku .
Kemudian, polisi pun masuk dan menjelajahi seluruh rumahku . Tidak ada . Mereka bilang mereka tidak menemukan seorang pun di dalam rumahku . Mereka bilang aku aman dan menyuruhku memeriksa apakah aku kehilangan barang-barangku atau tidak . Aku mengangguk tanda iya dan berterimakasih kepada mereka seraya mereka menaiki mobil dan menjauh dari rumahku .
Suasana sepi kembali . Kutengok
ke dalam, dan.. eh? Lampunya mati . T-tunggu dulu.. aku mendengar sesuatu.
“Tap.. tap..
tap..”
Ada
seseorang mendekatiku.
“Tap.. tap..
tap..”
Aku
benar benar tidak berani masuk ke dalam . Suara itu semakin dekat . Kunyalakan
lampu . Dia menghilang, tapi.. jejak kaki itu muncul lagi tepat beberapa meter
di depanku . Kucoba untuk mematikan lampu lagi . Aku melihatnya lagi ! Bayangan
itu mendekatiku, perlahan namun pasti . Dengan suara langkah kaki yang berat,
ah aku takut . Kunyalakan lagi lampunya . Jejak kaki itu kini semakin dekat
denganku . Ah aku benar-benar tidak tahan lagi, aku terlalu takut ! Aku
menelpon orang tuaku untuk menjemputku kesini dan membawaku kerumah mereka
untuk beberapa hari .
Sesampainya orang tuaku dirumah,
kupastikan jejak itu belum menghilang dan meminta mereka untuk melihatnya .
Namun, ketika aku memalingkan wajahku dari jejak kaki itu dan meminta orang
tuaku melihatnya, jejak kaki itu menghilang lagi . Sialaann! Aku benar-benar
dianggap gila oleh orang tuaku dan mereka memarahiku kemudian menyuruhku tidur .
Tapi aku merengek seperti anak kecil yang meminta lollipop kepada orang tuanya
agar mereka mengizinkanku tidur di rumah mereka . Mereka kesal, tentu saja .
Aku sudah 22 tahun dan masih ketakutan seperti ini saat tidak ada yang terjadi
di rumah . Ah, tidak . Mereka salah . Seandainya mereka tahu, aku benar benar
takut . Mereka pun mengizinkanku tidur di rumah mereka untuk beberapa hari . Kukunci
rumahku karena kutahu sesuatu itu bukanlah manusia .
45 menit di perjalanan kami pun
sampai di rumah orang tua kami . Orang tuaku turun dari dalam mobil kemudian
disusul aku di belakang mereka . Eh.. apa ini ? Aku mendengarnya lagi.
“Tap.. tap..
tap.. “
Seseorang seperti sedang mengikutiku di belakangku . Aku menengok ke
belakang . Eh? Tidak ada apa apa . Mungkin khayalanku saja karena kejadian tadi
berlangsung belum lama . Aku mengalihkan pandanganku ke depan lagi, kulihat
orang tuaku membuka kunci pintu rumah . Aman, tidak ada sesuatu pun yang
mencurigakan seperti di rumahku . Ah kupikir aku akan tidur nyenyak malam ini .
Tiba-tiba hembusan angin dingin menyentuh kulitku . Aku langsung merinding dan
cepat cepat masuk dan mengunci pintu rumah orang tuaku . Kemudian orang tuaku
mengantarku ke tempat tidurku mengucapkan selamat malam lalu pergi tidur .
Kini aku sendirian .
Kupandangi
sekeliling kamarku, mengangkat selimutku dan mencoba memejamkan mata.
“Tap.. tap..
tap..”
S-suara itu lagi ? Aku membuka
mataku . “Aaaa—“ aku tidak dapat menahan teriakanku lagi . Jejak kaki itu.. ada
di sini. Orang tuaku muncul di pintu dan melihatku sedang meringkuk di kasur
dengan selimut yang membalut tubuhku, menggigil ketakutan . Orang tuaku
menyentuh pundakku sambil memanggil namaku . “Rei.. Rei! Ada apa? “ “Aa—“ aku
melompat ketakutan dan kemudian memeluk ibuku . “Ada apa lagi ? Kenapa kamu
berteriak ? “ ibuku bertanya dengan senyum hangatnya. Hal itu selalu membuatku
merasa tenang .
Kemudian aku mengatakannya “Apakah ibu tidak lihat? Jejak kaki.. jejak kaki itu sampai kesini, bu!” aku masih terus memeluk ibuku. “Jejak kaki? Yang mana? Tidak ada jejak kaki, Rei. Kurasa kamu hanya kelelahan, kamu perlu istirahat yang cukup. “ Ayahku ikut berbicara . “Ayo lihatlah, itu hanyalah imajinasimu, Rei. Tidak ada jejak kaki apapun dan kembalilah tidur. “ ibuku mengelus kepalaku. Aku membuka mataku dan melihat ke lantai. Benar.. tidak ada. Tapi tadi ada, sungguh! Aku pun meminta maaf dan kembali mencoba untuk tidur. Mereka meninggalkanku pergi tidur kekamar mereka.
Kemudian aku mengatakannya “Apakah ibu tidak lihat? Jejak kaki.. jejak kaki itu sampai kesini, bu!” aku masih terus memeluk ibuku. “Jejak kaki? Yang mana? Tidak ada jejak kaki, Rei. Kurasa kamu hanya kelelahan, kamu perlu istirahat yang cukup. “ Ayahku ikut berbicara . “Ayo lihatlah, itu hanyalah imajinasimu, Rei. Tidak ada jejak kaki apapun dan kembalilah tidur. “ ibuku mengelus kepalaku. Aku membuka mataku dan melihat ke lantai. Benar.. tidak ada. Tapi tadi ada, sungguh! Aku pun meminta maaf dan kembali mencoba untuk tidur. Mereka meninggalkanku pergi tidur kekamar mereka.
Aku memejamkan mataku .
“Tap.. tap..
tap.. “
Suara itu lagi.. aa- apa ? Aku..
aku tidak dapat berteriak . Aku tidak dapat bersuara! Dadaku sesak, rasanya
tidak dapat bernafas . Lalu aku melihatnya. Makhluk itu.. dengan tubuh kurusnya
yang berlumuran darah, tangannya yang lurus dan panjang dengan kuku hitam yang
siap merobek isi perut siapa pun yang ia mau, matanya yang hitam pekat menatap
kearahku dengan senyum seringainya yang lebar memperlihatkan barisan
gigi-giginya yang tajam . Dia berbisik “Kau terlalu berisik . Jangan berkedip !
“
Apa? Jangan berkedip . Dia benar
, dari tadi aku tidak berkedip . Aku merasa mataku mulai kering dan gatal, tapi
dia bilang jangan berkedip . Ah , aku terpaksa . Aku mengedipkan mataku .
Aaaah! Dia.. dia semakin dekat . Aku berkedip lagi . Kini dia hanya 4 meter di
depanku . Dia tersenyum, seolah olah puas mengerjaiku . Aku tidak ingin
berkedip lagi , maka aku putuskan untuk memejamkan mataku saja tanpa membukanya
lagi .
Hening . Tidak ada apa pun yang
mengeluarkan suara . Hanya suara jarum jam dan detak jantungku yang kini
menjadi musik yang menemaniku di malam yang mengerikan ini . Kupikir makhluk
itu telah tiada . Aku mencoba membuka mataku dan.. benar! Dia.. dia sudah tidak
ada. Dia tidak ada! Aaaaah aku senang sekali, aku benar benar senang ! Aku pun
mencoba membalikkan badan untuk mencari posisi tidur yang nyaman.. tapi.. dia
disana. Tepat di depan wajahku, dia tersenyum lebar dan berkata “Kau curang,
memejamkan matamu terlalu lama.”
***
Ah.. dimana aku ? Apa yang
terjadi denganku ? Gelap sekali, ada apa ini ? Ah, perutku sakit sekali .
Begitu juga dengan tangan dan kakiku . Samar samar aku mendengar suara ibuku
yang memanggil – manggil namaku . “Rei.. Rei? Kamu sudah sadar ? “ ah aku benar
dia memanggilku. “Bu, dimana ini? Apa yang terjadi denganku? “ aku bertanya
dengan nada lemah. Ya.. benar . Tubuhku lemas sekali . Rasanya aku benar benar
lemah sampai berbicara pun kepalaku sakit . “Kami terkejut saat kamu berteriak untuk yang
kedua kali dari kamarmu, lalu.. kami menemukanmu dalam kondisi yang mengerikan
tanpa kamu sadar . Sesuatu telah melukai tubuhmu dan terlihat seperti cakaran .
Kedua bola matamu telah dicongkel keluar sehingga kamu tidak dapat melihat lagi
. Untung saja kamu masih hidup dan kami langsung membawamu ke rumah sakit . Polisi
tidak tahu apakah ini ulah manusia atau seekor binatang , tapi mereka sedang mencari
tahu tentang itu . Semoga kamu cepat sembuh, Rei.” aku dapat merasakan air mata
ibuku menetes diatas telapak tanganku yang sedang digenggamnya .
Kemudian, dengan suara lemah dia berkata “ Dan maafkan kami, tidak percaya padamu . “ aku terkejut . Tentang apa ? Aku bertanya kepadanya sambil tertawa kecil . “Apa yang ibu pikir kan ? Mengapa ibu meminta maaf ? “ “Jejak kaki itu .. kamu benar . Ada jejak kaki aneh di sepanjang jalan pintu masuk sampai kamarmu . “
Kemudian, dengan suara lemah dia berkata “ Dan maafkan kami, tidak percaya padamu . “ aku terkejut . Tentang apa ? Aku bertanya kepadanya sambil tertawa kecil . “Apa yang ibu pikir kan ? Mengapa ibu meminta maaf ? “ “Jejak kaki itu .. kamu benar . Ada jejak kaki aneh di sepanjang jalan pintu masuk sampai kamarmu . “
Thanks for read
No comments:
Post a Comment